--> Kisah Mbah Diro Gendong Siswa dan Nyaris Terbawa Arus Saat Selamatkan Puluhan Korban Susur Sungai - Kompas.com - KOMPAS.com | Indonesia Sikabar

Selasa, 25 Februari 2020

Kisah Mbah Diro Gendong Siswa dan Nyaris Terbawa Arus Saat Selamatkan Puluhan Korban Susur Sungai - Kompas.com - KOMPAS.com

| Selasa, 25 Februari 2020
Kisah Mbah Diro Gendong Siswa dan Nyaris Terbawa Arus Saat Selamatkan Puluhan Korban Susur Sungai - Kompas.com - KOMPAS.com

YOGYAKARTA,KOMPAS.com - Usia Sudiro atau sering dipanggil Mbah Diro, warga Dukuh, Desa Donokerto Kecamatan Turi, memang sudah tidak muda lagi.

Namun, dirinya terpanggil untuk turun ke Sungai Sempor, menolong para siswa yang hanyut terkena banjir.

Hari itu, Jumat (21/2/2020) pria berusia 71 tahun ini sedang bersih-bersih makam yang lokasinya tidak jauh dari sungai Sempor.

"Saya waktu itu baru bersih-bersih makam. Jaraknya 100 meter dari sungai," ujar Sudiro saat ditemui Kompas.com, Selasa (25/2/2020).

Baca juga: Terungkap, Hanya 4 Pembina yang Dampingi 249 Siswa SMPN 1 Turi Susur Sungai

Saat membersihkan makam itu, Mbah Diro sekitar pukul 15.30 WIB mendengar teriakan anak-anak dari arah sungai Sempor.

Curiga dengan teriakan itu, Mbah Diro meminta anaknya untuk mengecek sungai.

Setelah mengecek, anaknya mengatakan jika ada banyak anak-anak yang hanyut di sungai.

"Anak saya teriak ada yang kintir (hanyut)," ungkapnya.

Mendengar informasi itu, Mbah Diro lantas bergegas meninggalkan makam dan langsung menuju sungai.

Di sungai dirinya melihat anak-anak sekolah yang berpegangan pada batu dan pinggiran sungai seraya berteriak meminta tolong.

Di lokasi, Mbah Diro juga melihat Sudarwanto alias Kodir dan beberapa warga yang sedang menolong anak-anak tersebut.

"Saya lari, langsung turun ke sungai, menolong, ada yang saya gendong menuju ke pinggir sungai. Saya turun ke sungai demi anak-anak," ungkapnya.

Menurutnya saat itu arus sungai masih cukup deras. Beberapa anak-anak yang ditolongnya pun masih ketakutan.

"Saya memang sudah tua, tapi demi keselamatan anak-anak saya ikut menolong," urainya.

Baca juga: 2 Tersangka Baru Susur Sungai yang Tewaskan 10 Siswa SMPN 1 Turi Langsung Ditahan

Saat itu, Mbah Diro juga meminta salah satu warga untuk mengambil tangga yang panjang. Tangga tersebut dipergunakan sebagai alat bantu mengevakuasi anak-anak tersebut.

Mbah Diro mengaku sempat sedikit kesulitan karena selain usianya sudah tidak muda lagi, ditambah dengan arus sungai yang deras.

Bahkan, Mbah Diro sempat sedikit terhanyut derasnya aliran sungai saat itu.

"Anak kan saya gendong, tapi masih ketakutan, karena arusnya deras kaki saya terjepit di wadas. Saya tarik, ya terus luka sedikit ini, tapi tidak apa-apa yang penting anaknya selamat," bebernya.

Pria berusia 71 tahun ini tidak bisa mengingat berapa anak yang bisa diselamatkanya. Namun ada sekitar puluhan anak yang dibawanya ke pinggir sungai.

"Yang saya tolong Alhamdulilah selamat semua," ungkapanya.

Sudiro dan Kodir dapat penghargaan

Pemerintah melalui Kementerian Sosial memberikan penghargaan kepada Sudiro dan Sudarwanto alias Kodir yang telah menolong siswa SMP Negeri 1 Turi yang hanyut saat susur sungai Sempor.

Pemberian penghargaan tersebut bersamaan dengan kegiatan Sosialisasi Program Restorasi Sosial Kemensos RI serta peresmian Sekretariat Relawan Sembada oleh Bupati Sleman, Sri Purnomo

"Setelah mendengar informasi dari para media juga, Menteri Sosial memerintahkan kepada kami untuk memberikan apresiasi penghargaan kepada Pak Sudarwanto dan Pak Sudiro," ujar Direktur Perlindungan Sosial Korban Bencana Alam Kemensos RI Rachmat Koesnadi saat ditemui di Mako Tagana Sleman, Selasa (25/2/2020).

Baca juga: Musibah Susur Sungai, Kemendikbud: Kegiatan Ekskul Harus Perhatikan Keselamatan Siswa

Rachmat menyampaikan apa yang dilakukan oleh Sudarwanto dan Sudiro beserta warga lainya menjadi contoh bagi siapapun untuk cepat tanggap menolong para korban.

Naluri kemanusiaan yang dimiliki Sudarwanto dan Sudiro merupakan modal terbesar dalam segala aspek sosial dan kemanusiaan.

Pemerintah, melalui Kementerian Sosial mengapresiasi kerja kemanusiaan yang dilakukan oleh Sudarwanto dan Sudiro beserta beberapa warga.

"Kami sangat mengapresiasi kerja kemanusiaan teman- teman semua, khususnya Pak Sudarwanto dan pak Sudiro. Kalau tidak ada mereka, mungkin korban bisa lebih," tegasnya.

Sudarwanto dan Sudiro lanjutnya mendapatkan penghargaan berupa sertifikat dan uang tunai sebesar Rp 10.000.000.

Kementerian Sosial mengapresiasi sebesar-besarnya kepada seluruh relawan yang terlibat dalam seluruh operasi penyelamatan serta proses evakuasi pada kejadian susur sungai Sempor.

Sebelumnya, Wakil Bupati Sleman Sri Muslimatun Senin (24/2/2020) pagi mengunjungi rumah Kodir di RT 5/RW 26, Dusun Kembangarum, Desa Donokerto, Kecamatan Turi. Sri Muslimatun datang untuk bertemu dengan Kodir dan Mbah Diro.

Wakil Bupati Sleman mengapresiasi dan mengucapkan terimakasih kepada Sudarwanto dan Sudiro. Sebab, keduanya sudah ikut membantu anak-anak SMP Negeri 1 Turi saat membutuhkan pertolongan.

Selain mengucapkan terimakasih, Sri Muslimatun juga memberikan tali kasih kepada keduanya.

Menolong demi kemanusiaan

Sudiro mengaku yang menolong anak-anak SMP Negeri 1 Turi di Sungai Sempor tidak hanya dirinya dan Sudarwanto.

Namun, ada banyak warga yang turut menolong para peserta susur sungai.

Karenanya, Sudiro atau sering dipanggil Mbah Diro berat menerima penghargaan.

"Saya berat menerima ini. Ya karena bukan hanya saya tapi banyak yang menolong," urainya.

Mbah Diro mengungkapkan uang penghargaan diterimanya nantinya akan dibagikan kepada warga yang ikut membantu menolong para siswa yang hanyut di Sungai Sempor.

"Uang ini akan saya bagikan dan saya sumbangkan untuk membangun masjid," bebernya.

Sementara itu, Sudarwanto menegaskan apa yang dilakukanya di Sungai Sempor saat kejadian, semata-mata karena naluri manusia menolong sesama.

Pria yang mempunyai hobi memancing ini tidak mengharapkan apapun.

"Saya sebenarnya tidak sanggup menerima ini. Niat saya hanya menolong, karena kemanusiaan," tegasnya.



2020-02-25 10:09:00Z
https://news.google.com/__i/rss/rd/articles/CBMigwFodHRwczovL3JlZ2lvbmFsLmtvbXBhcy5jb20vcmVhZC8yMDIwLzAyLzI1LzE3MDkyMDAxL2tpc2FoLW1iYWgtZGlyby1nZW5kb25nLXNpc3dhLWRhbi1ueWFyaXMtdGVyYmF3YS1hcnVzLXNhYXQtc2VsYW1hdGthbj9wYWdlPWFsbNIBfmh0dHBzOi8vYW1wLmtvbXBhcy5jb20vcmVnaW9uYWwvcmVhZC8yMDIwLzAyLzI1LzE3MDkyMDAxL2tpc2FoLW1iYWgtZGlyby1nZW5kb25nLXNpc3dhLWRhbi1ueWFyaXMtdGVyYmF3YS1hcnVzLXNhYXQtc2VsYW1hdGthbg?oc=5

Related Posts

Tidak ada komentar:

Posting Komentar