--> Keinginan Keluarga Ayu Kepada Pemilik Septic Tank - Tagar News | Indonesia Sikabar

Sabtu, 28 Desember 2019

Keinginan Keluarga Ayu Kepada Pemilik Septic Tank - Tagar News

| Sabtu, 28 Desember 2019
Keinginan Keluarga Ayu Kepada Pemilik Septic Tank - Tagar News

Bantul - Suasana di lokasi penemuan kerangka manusia itu cukup sunyi. Hanya suara nyamuk yang berdenging, gesekan dedaunan dan batang bambu, serta sesekali suara lenguhan sapi dari kandang di halaman depan.

Garis polisi masih mengelilingi septic tank di Dusun Karangjati, Desa Bangunjiwo, Kecamatan Kasihan, Kabupaten Bantul, Yogyakarta, Jumat 27 Desember 2019.

Septic tank itu tidak tertutup sepenuhnya. Tutupnya yang terbuat dari beton berukuran sekitar 50x70 sentimeter, setebal sekitar 8 sentimeter, sedikit terbuka oleh kayu yang mengganjal di bawahnya.

Pemilik rumah, Waluyo 62 tahun, sedang menemui beberapa tamu di teras rumahnya yang bercat kuning. Tubuhnya yang kecil berbalut kaus putih, tampak sedikit lelah.

Awalnya Waluyo enggan menjelaskan apa pun mengenai penemuan kerangka manusia tersebut. Dia mengatakan, semua yang diketahuinya telah disampaikan pada pihak kepolisian.

"Menawi ajeng tangled-tangled, kula mboten saged jawab, njenengan langsung tangled teng kepolisian mawon (Kalau mau tanya-tanya, saya tidak bisa menjawab, kamu tanya ke kepolisian saja)," ucapnya.

Namun setelah beberapa saat bercakap-cakap, Waluyo perlahan mulai berkenan menjawab pertanyaan yang diajukan Tagar. Namun dia tetap enggan menjelaskan tentang kerangka yang ditemukan di septic tank rumahnya. Kerangka itu ditemukan pada Minggu 22 Desember 2019 menjelang Magrib.

Waluyo sangat ramah dan bersahabat, meski sorot matanya datar dan enggan membahas beberapa hal. Dia berulang kali mengulang, bahwa dia tidak mau menjawab pertanyaan tentang penemuan kerangka itu.

Tapi, dia tidak sungkan menjelaskan tentang kegiatan sehari-hari dan tentang septic tank di halaman belakang rumahnya. Sehari-hari Waluyo bekerja di sawah dan mengurus beberapa ekor ternaknya, berupa tiga ekor sapi dan seekor kambing.

Kandang sapi milik Waluyo hanya berjarak beberapa belas meter dari septic tank. Di sekitar kandang sapi, terlihat beberapa tumpukan jerami yang digunakan sebagai pakan ternak. "Niki wau nembe rampung ngguyang sapi (Ini tadi baru saja selesai memandikan sapi)," ucapnya.

Saat ini Waluyo hanya tinggal berdua bersama istrinya. Dua anak perempuannya tinggal bersama suami masing-masing. Sementara anak laki-lakinya, Edi Susanto yang tidak lain suami Ayu Shelisha alias Shelli, meninggal dunia akibat gantung diri hampir dua bulan lalu.

septic tankPenutup septic tank tempat penemuan kerangka manusia yang diyakini sebagai kerangka Ayu Shellisa. Foto diambil Jumat, 27 Desember 2019. (Foto: Tagar/Kurniawan Eka Mulyana)

Matanya menerawang saat Tagar menanyakan tentang Ayu Shelisha, anak menantunya itu. Waluyo hanya mengatakan bahwa Shelli adalah menantu yang baik. Saat masih tinggal di rumah itu, Shelli selalu bersikap sopan kepada mertua dan keluarganya.

Waluyo mengaku tidak mengetahui adanya keretakan hubungan antara anaknya dan Shelli. "Tiyang sepuh niku kan ngertosipun namung ingkang sae (Orang tua kan tahunya cuma yang baik saja)," ucapnya.

Waluyo mengaku sama sekali tidak mengetahui bahwa ada kerangka manusia di dalam septic tank. Dia juga mengaku tidak tahu sejak kapan kerangka itu ada di sana.

Waluyo juga tidak ingat kapan dia bertemu dengan Shelli untuk yang terakhir kali. Yang dia ingat hanya Shelli pergi tanpa pesan, kemudian menghilang begitu saja.

Begitu juga dengan septic tank di halaman rumahnya. Waluyo mengaku sudah lupa tahun pembuatannya. Yang jelas, kata dia, septic tank itu dibuat sudah sangat lama.

Tutup septic tank yang terbuat dari beton, menurut Waluyo hanya membutuhkan semen tidak sampai satu zak. Tapi dia tidak ingat persis ukuran penutup septic tank.

Waluyo mengatakan, jika menggunakan alat bantu seperti pengungkit, tutup septic tank tersebut tidak terlalu berat untuk dibuka. "Menawi dicungkil ngagem kayu nggih mboten abot (Kalau dicungkil menggunakan kayu ya tidak berat)," kata dia.

rumah waluyoKandang sapi di halaman rumah Waluyo, Karangjati, Bangunjiwo, Kecamatan Kasihan, Bantul. (Foto: Tagar/Kurniawan Eka Mulyana)

Biaya Peringatan 1.000 Hari Pemakaman Kerangka Ayu

Sementara itu, Sakman, kakek kandung Shelli saat ditemui di kediamannya di RW 09 Kampung Badran, Kelurahan Bumijo, Kecamatan Jetis, mengatakan, pihak keluarganya tidak menuntut apa pun terkait penemuan kerangka cucunya tersebut.

Saat ditemui, Sakman baru saja selesai mencuci pakaian. Sisa peluhnya masih terlihat di wajah dan sekujur tubuhnya yang telanjang dada. Wajahnya tidak lagi terlalu menampakkan kesedihan. Senyum ramah menghiasi wajahnya yang berhias keriput.

Sakman menjelaskan bahwa Shelli memiliki saudara kembar bernama Lelli. Keduanya menjadi yatim sejak ayah kandung mereka meninggal ketika keduanya masih kecil. Namun Lelli tidak bisa hadir pada pemakaman saudara kembarnya, karena Lelli masih ada di Nusa Tenggara.

Dari keluarga Shelli saat pemakaman, hanya ada dia dan Anik Maidarningsih 51 tahun, ibu kandung Shelli. Anik saat ini tinggal bersama suaminya di Bantul.

Menurut Sakman, keluarga Shelli hanya meminta pada keluarga Waluyo untuk menanggung semua biaya, mulai dari pemakaman hingga peringatan seribu hari pemakaman Shelli.

Kata Sakman, permintaan itu sudah disetujui oleh pihak Waluyo. Bahkan mereka telah menanggung biaya pemakaman dan lain-lain hingga biaya peringatan tujuh hari sejak kerangka Shelli dimakamkan.

"Jadi ada kesepakatan, dari sini (keluarga Shelli) minta pertanggungan jawab untuk biaya-biaya segalanya, sampai 1.000 harinya. Itu sudah disepakati. Kemarin dari sana (keluarga Waluyo) sudah kasih biaya untuk biaya pemakaman hingga persediaaan tujuh hari," urainya.

Menurut Sakman, biaya yang sudah dikeluarkan oleh keluarga Waluyo hingga pemakaman kerangka Shelli sekitar Rp 4 jutaan. Sedangkan keluarga Shelli untuk proses pemakaman dan lain-lain hanya menyumbang tenaga saja.

Pihaknya juga sudah ikhlas atas kepergian Shelli. Terlebih Edi, suami Shelli, juga sudah meninggal. Meski dia menduga pihak keluarga Waluyo sebenarnya mengetahui bahwa Shelli sudah meninggal. "Pihak keluarga sudah ikhlas, tidak menuntut apa-apa lagi, selesai sampai di sini," imbuhnya.

Ketua RW 09 Kampung Badran, Kelurahan Bumijo, Kecamatan Jetis, Kota Yogyakarta, Jumirin mengatakan, para tokoh masyarakat dan pengurus RW juga menyarankan agar pihak keluarga mengikhlaskan kepergian Shelli.

Salah satu alasannya adalah karena kejadian itu sudah cukup lama, dan agar tidak merepotkan kedua belah pihak, baik pihak keluarga Shelli maupun keluarga Waluyo.

"Pihak keluarga mengikhlaskan, karena kalau mau dipanjangkan nanti kasihan kedua belah pihak, pasti makan waktu dan biaya," kata Jumirin saat ditemui di sekitar pemakaman tempat 'kerangka Shelli' dimakamkan.

kakek ayuSakman, kakek Ayu Shellisa alias Shelli, duduk di samping makam cucunya, Jumat 27 Desember 2019. (Foto: Tagar/Kurniawan Eka Mulyana)

Terlebih, kata dia, pihak keluarga Waluyo juga hadir saat pemakaman kerangka tersebut. Mereka juga sudah bersedia menanggung segala biaya, mulai dari pemakaman hingga peringatan 1.000 hari meninggalnya Shelli.

Menurut dia, pemakaman dan peringatan 1.000 hari pemakaman dan segala sesuatunya juga pakai biaya. Kedua belah keluarga sudah membicarakan hal itu dan ada kesepakatan perihal biaya.

"Kemarin saya tutup dulu, kemudian saya rembugan (bicarakan) dengan keluarga yang di sana (Waluyo). Ternyata dia sanggup membiayai dari awal pemakaman sampai dengan 1.000 harinya," ungkapnya.

Jumirin mewakili keluarga Shelli mengucapkan terima kasih keluarga Waluyo. "Karena keluarganya Pak Sakman ini kan ekonominya juga pas-pasan," kata dia. []

Baca Juga:

Berita terkait



2019-12-28 04:30:00Z
https://news.google.com/__i/rss/rd/articles/CBMiRmh0dHBzOi8vd3d3LnRhZ2FyLmlkL2tlaW5naW5hbi1rZWx1YXJnYS1heXUta2VwYWRhLXBlbWlsaWstc2VwdGljLXRhbmvSAUtodHRwczovL3d3dy50YWdhci5pZC9rZWluZ2luYW4ta2VsdWFyZ2EtYXl1LWtlcGFkYS1wZW1pbGlrLXNlcHRpYy10YW5rL2FtcC8?oc=5

Related Posts

Tidak ada komentar:

Posting Komentar