--> Ada Bandar Pasar Modal Pemicu Skandal Jiwasraya, Siapa? - CNBC Indonesia | Indonesia Sikabar

Kamis, 19 Desember 2019

Ada Bandar Pasar Modal Pemicu Skandal Jiwasraya, Siapa? - CNBC Indonesia

| Kamis, 19 Desember 2019
Ada Bandar Pasar Modal Pemicu Skandal Jiwasraya, Siapa? - CNBC Indonesia

Jakarta, CNBC Indonesia - Pengamat asuransi menilai ada pemain lama di pasar modal yang bermain dalam pengelolaan dana investasi milik Jiwasraya. an.

"Kan diindikasikan juga ada pemain lama pasar modal yang ikut dalam hal ini sehingga terjadi penurunan nilai investasi dan menyebabkan kerugian Jiwasyara pada 2018. Ini menyebabkan istilah asuransinya, likuiditas asuransi Jiwasraya jadi makin parah," kata Pengamat Asuransi Hotbonar Sinaga melalui sambungan telepon kepada CNBC Indonesia dalam acara Closing Bell, Rabu (18/12/2019).

Kesalahan dalam mengelola investasi, jelas Hotbonar, membuat RBC (Risk Base Capital) Jiwasraya minus 800%. Padahal sebelumnya, RBC Jiwasraya positif di atas 120%, sesuai ketentuan minimum OJK 120%.


RBC adalah rasio solvabilitas yang menunjukkan kesehatan keuangan perusahaan asuransi. Jika RBC kian besar, semakin sehat pula kondisi finansialnya.

Dalam Dokumen Penyelamatan Jiwasraya yang diperoleh CNBC Indonesia, disebutkan bahwa untuk meningkatkan nilai RBC sampai 120%, maka jumlah dana yang dibutuhkan adalah sebesar Rp 32,89 triliun.

Jumlah tersebut terdiri dari kebutuhan pemenuhan RBC sebesar Rp 2,89 triliun dan adanya total ekuitas setelah terjadi impairment asset yakni sebesar Rp 30,13 triliun. Impairment asset adalah penurunan nilai aset karena nilai tercatat aset (carrying amount) melebihi nilai yang akan dipulihkan.

Masih mengacu dokumen tersebut, total ekuitas negatif Jiwasraya hingga September 2019 yakni sebesar Rp 23,92 triliun, sementara kewajiban mencapai Rp 49,60 triliun.

Manajemen yang baru di Jiwasraya, mengakui tidak akan sanggup membayar polis nasabah produk JS Saving Plan yang mencapai Rp 12,4 triliun yang jatuh tempo mulai Oktober-Desember 2019 (gagal bayar). Kesulitan keuangan ini disebabkan kesalahan investasi yang dilakukan oleh manajemen lama Jiwasraya.

Hotbonar menambahkan butuh dana paling tidak Rp 32 triliun untuk menyelamatkan Jiwasraya. Ini untuk membuat RBC Jiwasraya yang tadinya minus 800% menjadi 120%.

[Gambas:Video CNBC]


"Karena kalau engga bisa pembekuan atau pembatasan kegiatan usaha oleh OJK. Makanya direksi yang sekarang meminta dana talangan dari pemerintah sebesar 32 triliun," tambah Hotbonar.

Hotbonar menambahkan, Jiwasraya tidak boleh di likuidasi. Namun tidak boleh juga di bailout.

"Karena akan menimbulkan preseden buruk, terutama untuk BUMN asuransi," tambah Hotbonar. (hps/dob)



2019-12-19 06:03:04Z
https://news.google.com/__i/rss/rd/articles/CBMic2h0dHBzOi8vd3d3LmNuYmNpbmRvbmVzaWEuY29tL21hcmtldC8yMDE5MTIxOTEyNTQxMi0xNy0xMjQ0MTAvYWRhLWJhbmRhci1wYXNhci1tb2RhbC1wZW1pY3Utc2thbmRhbC1qaXdhc3JheWEtc2lhcGHSAQA?oc=5

Related Posts

Tidak ada komentar:

Posting Komentar